Jangan Jalan Sendiri
Catatan dari Ibadah Pertama di Awal Tahun
Hari ini,
Minggu, 4 Januari.
Ibadah kebaktian pertama di awal tahun ini.
Belum banyak resolusi.
Belum banyak rencana yang benar-benar rapi.
Tapi satu ayat langsung kena.
“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.”
(Yesaya 41:10)
Anehnya, ayat ini dibacakan bukan di tengah hidup yang kacau,
tapi di awal tahun—
saat semuanya kelihatan masih baik-baik saja.
Dan mungkin justru itu alasannya.
Takut Itu Kadang Datang Lebih Dulu dari Masalah
Awal tahun sering terlihat tenang.
Tapi di balik itu, kita semua tahu:
- ada kekhawatiran yang belum sempat diucapkan,
- ada beban lama yang belum benar-benar selesai,
- ada rasa “gue kuat nggak ya jalanin tahun ini?”
Yesaya 41:10 nggak datang untuk menegur,
tapi untuk menenangkan.
Bukan dengan janji hidup mulus,
tapi dengan satu kalimat sederhana:
Aku menyertai.
Tapi Kenapa Kita Masih Sering Jalan Sendiri?
Di ibadah yang sama, ayat ini juga dibacakan:
“Kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.
Tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya.”
(Pengkhotbah 4:10)
Dan entah kenapa, ayat ini yang gue bawa pulang.
Bukan karena kata jatuh-nya.
Tapi karena kata “wai”.
Itu bukan kata lembut.
Itu peringatan.
Seolah-olah Tuhan lagi bilang:
“Tahun boleh baru.
Tapi kalau lo jatuh sendirian, itu tetap berbahaya.”
Sejak Awal, Kita Memang Nggak Didesain untuk Jalan Sendiri
Jauh sebelum hidup jadi rumit,
Tuhan sudah bilang:
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”
(Kejadian 2:18)
Artinya, kebutuhan akan teman perjalanan
bukan karena kita lemah,
tapi karena kita manusia.
Masalahnya, makin dewasa,
makin banyak dari kita yang belajar satu kebiasaan:
menyimpan semuanya sendiri.
Padahal, yang bikin berat sering kali bukan masalahnya,
tapi kesendirian saat menjalaninya.
Tuhan Menyertai, Tapi Sering Lewat Orang
Hari ini gue sadar satu hal sederhana:
Yesaya 41:10 dan Pengkhotbah 4:10 itu bukan ayat yang berdiri sendiri.
Mereka saling melengkapi.
Tuhan menyertai.
Dan sering kali, penyertaan itu datang lewat orang lain.
Lewat:
- teman yang mau denger,
- orang yang berani negur,
- sosok yang hadir tanpa banyak nasihat.
Awal Tahun, Pertanyaannya Bukan “Target Apa?”
Tapi: “Gue Jalan Sama Siapa?”
Mungkin awal tahun ini bukan soal:
- target besar,
- pencapaian baru,
- atau rencana yang ambisius.
Mungkin pertanyaan paling jujurnya justru ini:
” Kalau gue jatuh tahun ini, siapa yang bisa ngangkat gue?
” Dan… siapa yang bisa gue angkat juga?
Karena hidup bukan cuma soal bertahan,
tapi soal berjalan bersama.
Catatan Kecil di Awal Tahun
Hari ini, dari ibadah pertama di tahun ini,
gue pulang dengan satu pengingat sederhana:
Tuhan menyertai.
Tapi gue nggak harus jalan sendirian.
Dan mungkin,
itu cara Tuhan menjaga kita—
bukan dengan menghilangkan semua ketakutan,
tapi dengan memastikan kita nggak jalan sendirian.
